Minggu, 11 Februari 2018

Sedikit Berevolusi

Hai, blog yang sudah cukup berdebu.
Maafkan kalau selama setahun tak sekalipun sempat bercerita denganmu. Padahal dalam waktu 365 hari itu ada saja momen yang akhirnya melekat di ingatan. Mungkin kali ini hanya akan mengajak flashback sedikit saja.

Satu tahun lebih belakangan ini, siklus hidup saya ‘sedikit’ berubah. Saya tetap wajib bangun pagi, hanya saja tujuannya berbeda. Yakni ke kantor, tempat saya bekerja, mengumpulkan rupiah. Saya bersyukur bisa mendapat tempat kerja yang sesuai dengan apa yang saya sukai, kurang lebih sama perasaannya ketika saya diterima di kampus yang saya inginkan. Meski lingkungan kantor dengan kampus itu jauh berbeda. Candaan kelas receh terganti dengan candaan orang dewasa. Atau perbincangan diskusi teori tergantikan dengan tipe rumah yang harganya miring & layak huni.

Perempuan yang usianya 23 1/4 tahun ini sepertinya masih belum paham untuk ikut dalam bahasan seperti ini. Oleh karena itu, seringkali ajakan teman kampus seperti “Ke Secangkir kuy” atau “Dilan deh” (iya, qu sudah nonton~) langsung saya iyakan hari itu juga meski hari sudah sangat gelap. Alasannya ya bosan saja. Beruntunglah yang masih diberi kesempatan untuk bertatap muka dengan kawan lama. Selain berhalangan karena kesibukan bekerja, kadang ada juga yang berhalangan karena sudah sibuk berkeluarga. Yes. Keluarga.

Welcome to the waves. 😂

Arus di mana grup angkatan ramai kalau isinya undangan resepsi. Isi media sosial Instagram stories bahkan sampai saya hapal ritmenya. Ketika weekdays di pagi hari adalah perjalanan menuju atau suasana kantor, kemudian petang hingga malam adalah waktu berkumpul dengan teman atau keluarga (bagi yang sudah), sedangkan weekend isinya balita yang menggemaskan, atau acara lamaran. Tidak terasa, circle pun berevolusi.

Saya cukup bahagia dengan arus yang mengalir ini. Setidaknya, saya masih bisa ikut merasakan gelak tawa  dan haru bahagia orang-orang terdekat sebagai obat penawar ketika mengingat semakin curamnya ujian yang harus dihadapi seiring bertambahnya usia.

By the way, tahun ini sepertinya saya akan banyak jalan-jalan. Doakan semoga saya bisa menyicil mimpi-mimpi saya yang masih banyak. Yang nanti akan saya ceritakan. Nanti.

Kamis, 29 Desember 2016

Ilustrasi Kostum Tradisional

Jika ada yang bertanya karya apa yang paling saya nikmati proses pengerjaannya (hingga saat ini), dengan senyum lebar menjawab: ilustrasi, dengan pakaian tradisional. Selama ini saya merasa bukan seorang yang detail-person. Tapi ketika saya coba-coba menggambar dan terima request karakter dengan pakaian tradisional dari beberapa daerah, ternyata menyenangkan! Beragam dan warna-warni. Slogan iklan kipas angin banget, cinta produk Indonesia.♡

A photo posted by Tristania Indah Wardhany (@tristaniaindah) on


A photo posted by Tristania Indah Wardhany (@tristaniaindah) on

Baju Pokko' dari adat Toraja, Sulawesi Selatan. Paling syukak!
Gabungan dua baju adat, Minang dan Bugis. Ilustrasi pesanan klien yang sekarang sudah terkirim di Soppeng.

...dan masih akan terus bertambah seiring pergerakan waktu, doakan saja.
:)

Silakan email saya tristaniaindah@gmail.com kalau ingin dibuatkan dengan tema serupa, dengan beberapa persetujuan pastinya. Ngobrol aja dulu, siapa tau cocok.

Jumat, 02 Oktober 2015

Post a Photo and Explain It


Selamat dini hari, blog. Belakangan ini saya sedang sering-seringnya menahan untuk tidak tidur sampai diatas jam 1 pagi, melakukan apapun itu. Rasanya asyik saja sementara orang-orang sudah terlelap, menuntaskan kerjaan ataupun kerjaan jauh lebih fokus, tidak terganggu sana-sini.

Masih postingan challenge, kali ini berjudul "Post a Photo and Explain It".


Saya kenal makhluk ini hampir tiga tahun lebih. Orang-orang yang sering berada di koridor jurusan, himpunan, ataupun kantin mace sudah hapal kelakuannya yang 'aneh'. Tapi entah ini perspektif saya saja atau bukan, he's an ordinary person, yet serious a bit. Saya percaya bahwa selalu ada hal baru yang bisa dipelajari dari yang penting hingga penting banget atau penting saja, setiap kali saya mengenal orang. Termasuk dia. Terimakasih sudah menjadi penyebab sulit tidur maupun bangun. Habis, kau terlihat nyata di mimpi itu. Ayo, realisasikan. (?).

Ngomong-ngomong, semoga panjang umur untuk tanggal 1 bulan lalu. Sesama virgo, ayo sini saling mentraktir. Kau sudah janji, bukan?

Selasa, 22 September 2015

Review Things: Bukittinggi

Beberapa hari yang lalu, di sosmed salah seorang senior saya, kak Pyonk membuat 5 Days Blog Challenge dengan niat membangkitkan lagi semangat menulis di blog kepada teman-teman blogger. Teman saya, Icha sudah mengikutinya dan membuat postingannya disini. Kemudian saya beserta teman-teman yang lain juga ditag oleh Icha, dengan niat yang sama tentunya. Iya, jujur saya merindukan masa-masa produktif akan tulisan dan juga gambar. *getok kepala sendiri

alstrojobaru.blogspot.com
Hal yang akan saya review disini adalah tempat. Yaitu kota Bukittinggi.

Kota kelahirannya Bung Hatta, Tulus, dan Nikita Willy ini termasuk salah satu daerah favorit saya selama berada di Sumatera Barat. Kota ini punya banyak tempat menarik yang bisa dikunjungi. Sudah terhitung mungkin tiga kali saya berkunjung kesini. Dan asyiknya, Bukittinggi hanya berjarak 1 jam dari lokasi posko saya ketika KKN, hehehe (cerita mengenai KKN saya selama di Sumatera Barat nanti menyusul ya!).

Hal-hal yang paling saya ingat selama berada di sana, antara lain:

1. Jam Gadang

Ibarat Makassar punya Pantai Losari, maka Bukittinggi punya Jam Gadang. Disinilah tempat titik berkumpulnya baik itu penduduk lokal yang sekedar ingin menghabiskan hari atau untuk berjualan maupun pendatang yang baru mengenali Bukittinggi. Menurut orang-orang, karena Jam Gadang inilah dulu kota Bukittinggi sempat dijuluki London Van Andalas. Big Ben-nya Sumatera gitu, cieh.

Kelompok pemain musik tradisional jalanan di Jam Gadang, the last picture I've taken in Bukittinggi.

2. Udara Dingin

Bahkan di siang bolong, sinar matahari tidak se-menyengat ibukota. Pengalaman saya waktu pertama kali kesana, saya kedinginan sedari perjalanan berangkat (mungkin karena nekat berangkat pake motor). Ditambah lagi saya baru sampai disana ketika magrib, sebagai satu-satunya pendatang diantara teman-teman KKN yang asli Minang saya merasa malu tapi senang juga.

3. Pasar

Meskipun disana ada KFC, Pizzahut, dan sejenisnya, jangan harap dapat menemukan mall disini. Well, saya tidak begitu peduli dengan hal tersebut. Justru lebih menyenangkan menjelajah mencari barang di kawasan seperti pasar. Pasar yang sempat saya kunjungi yaitu Pasar Terminal Aur Kuning, Pasar Atas dan Pasar Bawah.

Menurut oom dan tante saya yang sudah lebih dulu kesini,  Pasar Aur Kuning yang  "Tanah Abang"-nya Sumatera Barat. Kalau mau cari jilbab, mukena bordiran, konveksi, dan sejenisnya, disinilah tempatnya. Dan benar saja, ketika masuk ke bagian dalam Aur Kuning, jiwa emak-emak muncul kemudian langsung surut begitu selesai memborong. 50 persen uang jajan habis disini -_-

Semangat mencari oleh-oleh masih berlanjut di pasar berikutnya. Pasar Atas dan Pasar Bawah sendiri letaknya tidak berjauhan dari Jam Gadang. Kurang lebih sama, banyak yang jualan baju kaos sablon bertemakan Minangkabau, kain, oleh-oleh lucu, dan cemilan khasnya.

"Barah ciek, Da?" - sumber
Tips berbelanja disini adalah pokoknya jangan menyerah. Kalau gagal menawar, jangan ragu tinggalkan toko tersebut untuk mencari toko berikutnya yang lebih murah. Dan yang paling penting, harus kursus kilat bahasa Minang biar menawanya greget, kalau perlu bawa teman yang warga asli Bukittinggi.


4. Makanan

Beruntunglah untuk pecinta masakan Minang. Untuk yang pertama kali ke Sumbar mungkin akan kebingungan antara nasi kapau, lapau nasi, dan sebagainya. Saya pun terkadang masih sulit membedakannya. Selain itu, di pasarnya juga tidak sedikit yang menjual bumbu yang sudah digiling. Jajanan? Lebih banyak lagi. Hal yang paling bikin saya excited ketika mendapati ada yang menjual perkedel sebagai jajanan. Kalau berniat mencari oleh-oleh makanan, sebaiknya langsung beli di pasarnya daripada beli di toko oleh-oleh! *masih jiwa emak-emak* Serius, karena harganya lebih mahal di toko oleh-oleh dan rasanya tidak jauh berbeda.

Joke tentang kripik karak kaliang/lanting/kripik lapan di instagram.
5. Ngarai

Kalau mengenai Sumatera Barat mungkin ada yang pernah dengar Ngarai Sianok. Salah satu obyek wisata lainnya yang sempat saya kunjungi karena penasaran dengan Great Wall-nya, meskipun berhenti di tengah jalan karena banyak yang tidak sanggup mi jalan. :))

di Tembok Cina (Great Wall), pardon our selfies below



There it goes, challenge accepted. Semoga bisa menambah semangat menulis kedepannya. :)