Pada satu Senin siang, salah satu rekan (sebut saja Maemun) mendapat giliran menjadi ‘narasumber’ untuk sharing session di kantor, tentang apa saja (kami coba membiasakan kegiatan ini di kantor, minimal sebulan sekali). By the way, karena blio ini adalah salah satu figur yang sudah cukup dikenal di kota kami karena aktif berkarya, maka diceritakanlah bagaimana dirinya mencoba mengembangkan beberapa potensi yang dia punya. Mulai dari bekerja, berorganisasi, menulis blog dan buku, menjadi musisi, dan juga pengalaman-pengalaman randomnya.
Meski saya sudah lama saling kenal dengan Maemun sebelum satu kantor, ada beberapa hal yang baru saya kutip dari hasil sharing session dengannya saat itu. Yang kupikir bisa relate dengan kondisi sekarang ini. Dia pernah bilang bahwa dia merasa aneh kalau membaca kembali karya-karya tulisan lamanya, termasuk bukunya yang pernah dia terbitkan.
Lebih tepatnya seperti ini,
“Apa kah saya tulis ini” (versi Makassar)
“Ku nulis apaan sih dulu anjir” (versi luar Makassar nyerempet ke Jakarta)
Padahal respon orang-orang sangat positif dengan karya bukunya saat pertama kali terbit. Walaupun begitu, Maemun bilang kalau buku itu tidak diterbitkan, dia tidak akan tahu bahwa dirinya pernah ada di titik itu. Karyanya yang dia anggap sebagai penanda, check point, titik di mana kita pernah punya pemikiran seperti ini. Lalu di masa depan, kita bisa saja memiliki pemikiran atau pendapat yang berbeda dari masa sebelumnya. Menurutnya, manusia sedinamis itu. Artinya kita (manusia) berkembang.
Sebagai salah satu umat manusia yang pernah berpola pikir kaku/kolot/statis dibanding pernyataan Maemun tadi. Saya (pernah) beranggapan, kalau orang itu kelakuan dan pemikirannya A pasti beberapa tahun kemudian akan tetap A. Tidak bakalan beralih ke B apalagi E.
Misalkan, di linimasa media sosial ada sebuah perdebatan antara (sebut saja) Nini dan Nunu tentang suatu topik. Karena takut argumennya dikalahkan oleh Nini, maka Nunu mencoba menggali dan membalasnya dengan screenshot cuitan opini lama Nini yang sudah bertahun-tahun lamanya dengan caption, “is this you?”, dengan tujuan agar Nini terlihat seperti-menjilat-ludah-sendiri. Logical fallacy, huh? :p
Atau, saya pernah mengidolakan seorang seniman, karya-karyanya bagus, kepribadiannya baik, tapi tidak menutup kemungkinan suatu saat dia akan melakukan hal yang mengecewakan publik. Yang bisa saja mengubah persepsiku terhadap idola saya itu. Contoh lain, jika saya bercita-cita ingin berprofesi sebagai desainer grafis, maka cukup saya pelajari ilmu desain grafis saja, atau jago di teknik mengoperasikan aplikasi dari Adobe saja. Tidak perlu belajar hierarki visual, public speaking, negosiasi, UI/UX, dan beberapa irisan ilmu lainnya.
Jika saya mempertahankan pola pemikiran seperti itu terus-terusan, entah saya akan menjadi pribadi yang seperti apa sekarang. Terima kasih kepada kegagalan-kegagalan dan batu sandungan, hehe.
Intinya adalah, jadi manusia jangan kaku-kaku bangetlah. Walaupun saya tidak membenarkan perilaku nyerang seseorang pake argumen lamanya atau seperti Nunu yang memaksa Nini menjilat ludah sendiri tadi (ada istilah lain tidak ya buat ini). Masa lalu tidak selamanya menjadi aib. Bisa saja itu menjadi titik balik seseorang. Belajar dan buatlah sesuatu yang disuka, sebagai penanda posisi kita sendiri. Sebagai pengingat untuk diri sendiri di masa depan. Sama seperti niatan saya untuk coba mengisi tulisan di blog ini lagi, hehe. Wish me luck✌









