Tampilkan postingan dengan label sharing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sharing. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 13 Februari 2021

"Manusia itu dinamis."

Pada satu Senin siang, salah satu rekan (sebut saja Maemun) mendapat giliran menjadi ‘narasumber’ untuk sharing session di kantor, tentang apa saja (kami coba membiasakan kegiatan ini di kantor, minimal sebulan sekali). By the way, karena blio ini adalah salah satu figur yang sudah cukup dikenal di kota kami karena aktif berkarya, maka diceritakanlah bagaimana dirinya mencoba mengembangkan beberapa potensi yang dia punya. Mulai dari bekerja, berorganisasi, menulis blog dan buku, menjadi musisi, dan juga pengalaman-pengalaman randomnya.

Meski saya sudah lama saling kenal dengan Maemun sebelum satu kantor, ada beberapa hal yang baru saya kutip dari hasil sharing session dengannya saat itu. Yang kupikir bisa relate dengan kondisi sekarang ini. Dia pernah bilang bahwa dia merasa aneh kalau membaca kembali karya-karya tulisan lamanya, termasuk bukunya yang pernah dia terbitkan.

 

Lebih tepatnya seperti ini,

“Apa kah saya tulis ini” (versi Makassar)

“Ku nulis apaan sih dulu anjir” (versi luar Makassar nyerempet ke Jakarta)

 

Padahal respon orang-orang sangat positif dengan karya bukunya saat pertama kali terbit. Walaupun begitu, Maemun bilang kalau buku itu tidak diterbitkan, dia tidak akan tahu bahwa dirinya pernah ada di titik itu. Karyanya yang dia anggap sebagai penanda, check point, titik di mana kita pernah punya pemikiran seperti ini. Lalu di masa depan, kita bisa saja memiliki pemikiran atau pendapat yang berbeda dari masa sebelumnya. Menurutnya, manusia sedinamis itu. Artinya kita (manusia) berkembang.


Sebagai salah satu umat manusia yang pernah berpola pikir kaku/kolot/statis dibanding pernyataan Maemun tadi. Saya (pernah) beranggapan, kalau orang itu kelakuan dan pemikirannya A pasti beberapa tahun kemudian akan tetap A. Tidak bakalan beralih ke B apalagi E.

 

Misalkan, di linimasa media sosial ada sebuah perdebatan antara (sebut saja) Nini dan Nunu tentang suatu topik. Karena takut argumennya dikalahkan oleh Nini, maka Nunu mencoba menggali dan membalasnya dengan screenshot cuitan opini lama Nini yang sudah bertahun-tahun lamanya dengan caption, “is this you?”, dengan tujuan agar Nini terlihat seperti-menjilat-ludah-sendiri. Logical fallacy, huh? :p

 

Atau, saya pernah mengidolakan seorang seniman, karya-karyanya bagus, kepribadiannya baik, tapi tidak menutup kemungkinan suatu saat dia akan melakukan hal yang mengecewakan publik. Yang bisa saja mengubah persepsiku terhadap idola saya itu. Contoh lain, jika saya bercita-cita ingin berprofesi sebagai desainer grafis, maka cukup saya pelajari ilmu desain grafis saja, atau jago di teknik mengoperasikan aplikasi dari Adobe saja. Tidak perlu belajar hierarki visual, public speaking, negosiasi, UI/UX, dan beberapa irisan ilmu lainnya.

 

Jika saya mempertahankan pola pemikiran seperti itu terus-terusan, entah saya akan menjadi pribadi yang seperti apa sekarang. Terima kasih kepada kegagalan-kegagalan dan batu sandungan, hehe.

 

Intinya adalah, jadi manusia jangan kaku-kaku bangetlah. Walaupun saya tidak membenarkan perilaku nyerang seseorang pake argumen lamanya atau seperti Nunu yang memaksa Nini menjilat ludah sendiri tadi (ada istilah lain tidak ya buat ini). Masa lalu tidak selamanya menjadi aib. Bisa saja itu menjadi titik balik seseorang. Belajar dan buatlah sesuatu yang disuka, sebagai penanda posisi kita sendiri. Sebagai pengingat untuk diri sendiri di masa depan. Sama seperti niatan saya untuk coba mengisi tulisan di blog ini lagi, hehe. Wish me luck✌

Selasa, 22 September 2015

Review Things: Bukittinggi

Beberapa hari yang lalu, di sosmed salah seorang senior saya, kak Pyonk membuat 5 Days Blog Challenge dengan niat membangkitkan lagi semangat menulis di blog kepada teman-teman blogger. Teman saya, Icha sudah mengikutinya dan membuat postingannya disini. Kemudian saya beserta teman-teman yang lain juga ditag oleh Icha, dengan niat yang sama tentunya. Iya, jujur saya merindukan masa-masa produktif akan tulisan dan juga gambar. *getok kepala sendiri

alstrojobaru.blogspot.com
Hal yang akan saya review disini adalah tempat. Yaitu kota Bukittinggi.

Kota kelahirannya Bung Hatta, Tulus, dan Nikita Willy ini termasuk salah satu daerah favorit saya selama berada di Sumatera Barat. Kota ini punya banyak tempat menarik yang bisa dikunjungi. Sudah terhitung mungkin tiga kali saya berkunjung kesini. Dan asyiknya, Bukittinggi hanya berjarak 1 jam dari lokasi posko saya ketika KKN, hehehe (cerita mengenai KKN saya selama di Sumatera Barat nanti menyusul ya!).

Hal-hal yang paling saya ingat selama berada di sana, antara lain:

1. Jam Gadang

Ibarat Makassar punya Pantai Losari, maka Bukittinggi punya Jam Gadang. Disinilah tempat titik berkumpulnya baik itu penduduk lokal yang sekedar ingin menghabiskan hari atau untuk berjualan maupun pendatang yang baru mengenali Bukittinggi. Menurut orang-orang, karena Jam Gadang inilah dulu kota Bukittinggi sempat dijuluki London Van Andalas. Big Ben-nya Sumatera gitu, cieh.

Kelompok pemain musik tradisional jalanan di Jam Gadang, the last picture I've taken in Bukittinggi.

2. Udara Dingin

Bahkan di siang bolong, sinar matahari tidak se-menyengat ibukota. Pengalaman saya waktu pertama kali kesana, saya kedinginan sedari perjalanan berangkat (mungkin karena nekat berangkat pake motor). Ditambah lagi saya baru sampai disana ketika magrib, sebagai satu-satunya pendatang diantara teman-teman KKN yang asli Minang saya merasa malu tapi senang juga.

3. Pasar

Meskipun disana ada KFC, Pizzahut, dan sejenisnya, jangan harap dapat menemukan mall disini. Well, saya tidak begitu peduli dengan hal tersebut. Justru lebih menyenangkan menjelajah mencari barang di kawasan seperti pasar. Pasar yang sempat saya kunjungi yaitu Pasar Terminal Aur Kuning, Pasar Atas dan Pasar Bawah.

Menurut oom dan tante saya yang sudah lebih dulu kesini,  Pasar Aur Kuning yang  "Tanah Abang"-nya Sumatera Barat. Kalau mau cari jilbab, mukena bordiran, konveksi, dan sejenisnya, disinilah tempatnya. Dan benar saja, ketika masuk ke bagian dalam Aur Kuning, jiwa emak-emak muncul kemudian langsung surut begitu selesai memborong. 50 persen uang jajan habis disini -_-

Semangat mencari oleh-oleh masih berlanjut di pasar berikutnya. Pasar Atas dan Pasar Bawah sendiri letaknya tidak berjauhan dari Jam Gadang. Kurang lebih sama, banyak yang jualan baju kaos sablon bertemakan Minangkabau, kain, oleh-oleh lucu, dan cemilan khasnya.

"Barah ciek, Da?" - sumber
Tips berbelanja disini adalah pokoknya jangan menyerah. Kalau gagal menawar, jangan ragu tinggalkan toko tersebut untuk mencari toko berikutnya yang lebih murah. Dan yang paling penting, harus kursus kilat bahasa Minang biar menawanya greget, kalau perlu bawa teman yang warga asli Bukittinggi.


4. Makanan

Beruntunglah untuk pecinta masakan Minang. Untuk yang pertama kali ke Sumbar mungkin akan kebingungan antara nasi kapau, lapau nasi, dan sebagainya. Saya pun terkadang masih sulit membedakannya. Selain itu, di pasarnya juga tidak sedikit yang menjual bumbu yang sudah digiling. Jajanan? Lebih banyak lagi. Hal yang paling bikin saya excited ketika mendapati ada yang menjual perkedel sebagai jajanan. Kalau berniat mencari oleh-oleh makanan, sebaiknya langsung beli di pasarnya daripada beli di toko oleh-oleh! *masih jiwa emak-emak* Serius, karena harganya lebih mahal di toko oleh-oleh dan rasanya tidak jauh berbeda.

Joke tentang kripik karak kaliang/lanting/kripik lapan di instagram.
5. Ngarai

Kalau mengenai Sumatera Barat mungkin ada yang pernah dengar Ngarai Sianok. Salah satu obyek wisata lainnya yang sempat saya kunjungi karena penasaran dengan Great Wall-nya, meskipun berhenti di tengah jalan karena banyak yang tidak sanggup mi jalan. :))

di Tembok Cina (Great Wall), pardon our selfies below



There it goes, challenge accepted. Semoga bisa menambah semangat menulis kedepannya. :)

Senin, 15 Juli 2013

Let's Draw and Paint!

Halooo~~~~~!

Ini sudah 1 minggu Ramadhan dan saya sedang tidak puasa karena datang bulan hahaha T__T *oke ini sangat tidak penting*

Akhir-akhir ini saya lagi tertarik dengan salah satu peralatan gambar yang umumnya orang sebut itu cat air/watercolor. Terakhir saya pakai cat air ketika kelas XI waktu pelajaran seni rupa, pelajaran yang paling saya senangi di SMA tapi tidak ketika sudah kelas XII karena tidak ada lagi diajarkan materi melukis-__-

Ada keasyikan tersendiri ketika saya mencoba membasahi kuas, mencampurkan warna dan memulaskannya ke kertas. Atau bahkan ketika cat airnya secara tidak sengaja menetes di tempat yang salah, kemudian panik dan berusaha membersihkannya atau menutupnya dengan warna lain, biarpun sebenarnya itu adalah  hal yang sia-sia :)) karena sifat cat air yang transparan dan bersifat tidak menutup (ini saya baru tau pas ngetik postingan ini sambil browsing, ngahahaha).

Alhasil sekarang saya jadi rajin ke toko alat tulis/stationery untuk berburu alat-alat beginian. Lumayan menguras kantong.

1. Cat air padat Giotto 12 warna. Dengan bonus kuas. Kelebihannya kalau pake ini lumayan "hemat" penggunaan cat tapi agak susah kalau mau campur warna karena sifat "hemat"nya itu tadi dan harus hati-hati supaya catnya tidak terkontaminasi warna lain secara permanen. Harganya 35ribuan.
2. Cat air Osama 12 warna. Direkomendasikan oleh guru seni SMA saya, ada juga merk Pentel yang sedikit lebih mahal. Untuk yang baru belajar lebih baik pake yang cair kayak begini karena bisa bebas campur-campur warna. Sekitaran 20ribu keatas.


3. Kuas. Yang ini banyak jenis dan ukurannya. Harganya juga macam-macam. Sedikit tips, kalau untuk melukis di kertas pilih kuas yang halus, sedangkan kalau mau melukis di kanvas pilihnya kuas yang kasar^^v





4. Canson Watercolor Paper. Sebenarnya cuma ngetes bagus mana dibandingkan dengan buku gambar biasa, karena waktu diajarkan di SMA cuma pake buku gambar biasa. Jadi ini cuma opsi kalau mau hasilnya lebih cihuy :) harga 25ribu keatas.





5. Last but not least, palet. Ituuu, yang berbentung piringan. Supaya cat gampang dicampur dan tentu saja, tempat untuk meletakkan cat air itu sendiri :)

Dan ini dia hasil corat-coret lukisan saya.

"Bunnyhat Girl" dengan sedikit photoshop, cuma untuk kasih jelas warnanya dan ornamen bulat-bulat yang dikanan pfft
"Dulu-Sekarang". Sistem orientasi di Kosmik saat ini. Akan terpasang di mading Kosmik edisi kali ini :)
Yak. That's all. Semoga bermanfaat dan menginspirasi (juga bela) hahaha, selamat puasa teman-teman!

(p.s: kalau mau liat gambar-gambar yang lain, silakan buka disini http://goo.gl/9dEKM *promosi :p)

referensi: 
http://painting.about.com/cs/watercolours/ht/Howto_WCchoose.htm
http://id.wikipedia.org/wiki/Kuas_lukis
http://senirupa.net/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=6&artid=72

Sabtu, 22 Juni 2013

Jurnalistik

Dalam jurusan ilmu komunikasi Unhas, di semester 5 nanti akan ada pilihan kita mau ambil prodi apa. Ada PR (Public Relation), Jurnalistik, atau Broadcast. Sejauh ini yang baru saya coba pelajari itu Jurnalistik. PR masih belum terlalu, Broadcast juga belum. Karena dari beberapa kegiatan yang saya ikuti kebanyakan bertemakan jurnalistik, maka kali ini saya akan coba "menuangkan" apa yang telah saya pelajari, disini. *ceritanya sok jago*
Jurnalistik sendiri berasal dari kata dasar "jurnal", what is journal?

Jurnal:
1. 1 (buku) catatan harian; 2 surat kabar harian; 3 Dag buku yg dipakai sbg buku perantara antara buku harian dan buku besar; 4 Dag buku yg dipakai untuk mencatat transaksi berdasarkan urutan waktu; 5 majalah yg khusus memuat artikel dl satu bidang ilmu tertentu;
-- olahraga catatan mengenai olahraga
source: kbbi3
Jadi dapat disimpulkan bahwa jurnal itu adalah ketika suatu peristiwa atau sejenisnya yang dituangkan dalam tulisan, baik itu catatan harian, surat kabar, dan sejenisnya. Sedangkan pengertian Jurnalistik sendiri adalah kewartawanan. Yap, jika kelak kita mengambil prodi ini maka kemungkinan besar dalam dunia kerja nanti akan mengambil peran atau bekerja sebagai wartawan. Meski terkadang tidak semua lulusan jurnalistik akan menjadi jurnalis/wartawan, tapi sebagian besar mungkin.

Ada beberapa hal menarik yang saya dapat mengenai Jurnalistik ini. Setelah tau sedikit tentang seluk-beluknya terutama mengenai bagaimana susunan redaksi dalam sebuah media cetak, saya jadi sempat mengkhayal menjadi bagian didalamnya. Jadi apa? Layouter. Bwakakaka, nda tanggung-tanggung cuy mengkhayalnya :)) atau setidaknya menjadi pembuat pojok artikel karikatur kayak Benny & Mice, ahahaha! Aminkan sajalah x))

Selain itu, saya juga pernah mendengar salah satu senior saya bilang "Kegiatan PR sebenarnya masuk dalam bagian Jurnalistik." Ada juga yang bilang orang Jurnal biasanya bisa ambil bagian PR, tapi PR belum tentu bisa ambil bagiannya Jurnal (ini tanpa maksud memihak pada jurnal ya). Benar juga sih, selama ini kan sebenarnya PR itu adalah bagian dari Jurnalistik. Broadcast juga, hanya saja broadcast mungkin lebih ke penyiaran.

Apakah saya tertarik untuk mengambil prodi Jurnalistik? Ya, mungkin. Masih banyak sebenarnya hal yang belum tuntas saya pahami mengenai Jurnalistik. Jika ada yang lebih paham soal ini, silakan saja tambahkan/koreksi di kotak komentar, feel free to share karena saya juga masih belajar :)